About Us

Salah Satu Hikmah Dari Menikah

 

Seorang pemuda menghabiskan banyak waktunya untuk ibadah, dan sedikit waktu untuk bekerja mencari penghasilan, sekedar memenuhi kebutuhannya yang memang tidak banyak. Ketika orang tua dan kerabatnya bermaksud menikahkannya, ia selalu saja menolak. Ia beranggapan bahwa kesibukannya mengurus istri dan anak-anak hanya akan mengganggu ibadahnya kepada Allah.

Pemuda itu makin disukai banyak orang karena kesalehannya, dan banyak di antaranya yang ingin mengambilnya sebagai menantu. Di jaman itu, ukuran keutamaan seseorang di masyarakat adalah akhlak dan kesalehannya, tidak seperti sekarang ini yang lebih mengacu pada harta dan profesinya. Karena itu, walau pekerjaannya hanya ‘sekedarnya’ yang mungkin tidak bisa mencukupi kebutuhan suatu keluarga, banyak sekali orang yang ingin ‘melamar’ pemuda itu untuk dinikahkan dengan putrinya. Tetapi pemuda tersebut menolak dan tetap teguh dengan pendiriannya, dan makin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya kepada Allah.

Suatu hari ketika bangun dari tidurnya, tiba-tiba saja pemuda itu berkata, “Nikahkanlah aku, nikahkanlah aku!!”

Orang tua dan para kerabatnya yang ada di situ, saling berpandangan penuh keheranan. Salah seorang dari mereka berkata, “Mengapa tiba-tiba engkau minta menikah, padahal selama ini engkau selalu menolaknya walau banyak yang menginginkan dirimu??”

Pemuda itu berkata, “Saya ingin mempunyai anak yang banyak, dan ada di antara mereka yang meninggal ketika masih kecil (belum baligh), dan saya akan bersabar karenanya!!”

Sekali lagi orang tua dan kerabatnya berpandangan tidak mengerti, sepertinya tidak ada hubungannya dengan keinginannya yang tiba-tiba itu. Pemuda itu mengerti kebingungan mereka, dan ia menceritakan kalau baru saja bermimpi, seolah-olah kiamat telah tiba. Ia berdiri di padangMakhsyar dalam keadaan panas dan haus yang tidak terperikan, seolah-olah akan mematahkan lehernya. Tidak ada sesuatu yang bisa diminum untuk menghilangkan rasa haus dan panas itu, dan sepertinya ‘penderitaan’ itu akan berlangsung sangat lama.

Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ia melihat anak-anak yang berjalan dan bergerak di antara begitu banyak orang dengan membawa gelas-gelas perak yang ditutup dengan saputangan dari cahaya. Mereka itu mencari-cari dan ketika menemukan seseorang, mereka memberikan minuman dalam gelas tersebut. Ketika beberapa anak melewatinya, ia mencoba mengulurkan tangan mengambil gelas itu sambil berkata, “Berikanlah kepadaku karena aku juga sangat haus!!”

Anak-anak itu menghalangi maksudnya, mereka memandanginya beberapa saat, kemudian berkata, “Anda tidak mempunyai anak di antara kami, dan kami hanya memberikan minuman kepada ayah dan ibu kami!!”

Pemuda itu berkata, “Siapakah kalian ini!!”

Mereka menjawab, “Kami adalah anak-anak dari kaum muslimin, dan kami meninggal sewaktu kami masih kecil, dan orang tua kami bersabar dengan musibah dari Allah tersebut!!”

Pemuda itu berkata kepada orang tua dan kerabat yang mengitarinya, “Saat itu aku sangat menyesal dan menangisi nasibku karena tidak mau menikah. Mungkin itu hukumanku karena ‘tidak mengikuti’ sunnah Rasulullah SAW. Tetapi tiba-tiba aku terbangun dan semua peristiwa itu ternyata hanya dalam mimpi, walau sepertinya sangat jelas dan terasa nyata. Karena itulah aku tiba-tiba berteriak minta segera dinikahkan!!”

Mudah-mudahan bermanfaat.

Share:

Api dunia dan api neraka

 

Ketika Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, beliau tidak lagi memperoleh makanan secara mudah seperti di surga. Beliau harus bekerja keras untuk memperoleh buah-buahan atau daging untuk dimakan.

Ketika beliau memperoleh binatang buruan dan menyembelihnya, ternyata tidak bisa langsung dimakan begitu saja karena masih mentah dan tentunya tidak enak. Karena itu beliau berdoa kepada Allah agar diturunkan api untuk memasak.

Maka Allah SWT mengutus Malaikat Jibril meminta sedikit api kepada Malaikat Malik di neraka, untuk keperluan Nabi Adam tersebut. Malik berkata, “Wahai Jibril, berapa banyak engkau menginginkan api??”

Jibril berkata, “Aku menginginkan api neraka itu seukuran buah kurma!!”

Malik berkata, “Jika aku memberikan api neraka itu seukuran buah kurma, maka tujuh langit dan seluruh bumi akan hancur meleleh karena panasnya!!”

Jibril berkata, “Kalau begitu berikan saja kepadaku separuh buah kurma saja!!”

Malik berkata lagi, “Jika aku memberikan seperti apa yang engkau inginkan, maka langit tidak akan menurunkan air hujan setetespun, dan semua air di bumi akan mengering sehingga tidak ada satupun tumbuhan yang hidup!!”

Malaikat Jibril jadi kebingungan, sebanyak apa api neraka yang ‘aman’ untuk kehidupan di bumi?? Karena itu ia berdoa, “Ya Allah, sebanyak apa api neraka yang harus aku ambil untuk kebutuhan Adam di bumi??”

Allah berfirman, “Ambilkan api dari neraka sebesar zarrah (satuan terkecil, atom)!!”

Maka Jibril meminta api neraka kepada Malik sebesar zarrah dan membawanya ke bumi. Tetapi setibanya di bumi, Jibril merasakan api yang sebesar zarrah itu masih terlalu panas, maka beliau mencelupkan (membasuhnya) sebanyak tujuhpuluh kali ke dalam tujuhpuluh sungai yang berbeda. Baru setelah itu beliau membawanya kepada Nabi Adam, dan meletakkannya di atas gunung yang tinggi.

Tetapi begitu api tersebut diletakkan, gunung tersebut hancur berantakan. Tanah, batuan, besi dan semua saja yang ada di sekitar api itu menjadi bara yang sangat panas, dan mengeluarkan asap. Bahkan api yang sebesar zarrah itu terus masuk menembus bumi, dan hal itu membuat Jibril khawatir. Karena itu ia segera mengambil api tersebut dan membawanya kembali ke neraka. Bara terbakar yang ditinggalkan itulah yang sampai sekarang ini menjadi sumber api dunia, termasuk yang menjadi magma-magma di semua gunung berapi di bumi ini.

Tidak bisa dibayangkan bagaimana panasnya api neraka tersebut. Kalau bara api dunia itu umumnya berwarna merah, maka bara api neraka itu berwarna hitam kelam, seperti hitamnya gelap malam. Nabi SAW pernah menanyakan tentang keadaan api neraka itu, maka Malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan neraka, lalu menyalakan api neraka itu selama seribu tahun sehingga (baranya) berwarna merah. Kemudian (Allah) menyalakannya (menambah panasnya) selama seribu tahun lagi sehingga (baranya) berwarna putih, dan (Dia) menyalakannya (menambah panasnya) selama seribu tahun lagi sehingga (baranya) berwarna hitam. Maka neraka itu hitam kelam seperti hitamnya malam yang sangat gelap pekat, tidak pernah tenang kobaran apinya dan tidak pernah padam (berkurang) bara apinya!!”

Semoga bermanfaat.

Share:

Recent

Popular Posts

Label

Adi Albukhori (9) Cisitu (14) Foto (8) Google (1) informasi (130) islam (45) Kematian (8) Kenaikan Kelas (8) Kesehatan (42) Peta (1) Saham (9) Sejarah (4) Situ Zen (21) TTS asli (10)

Arsip Blog

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Butuh bantuan kami untuk upload atau menyesuaikan templat blogger ini? Hubungi saya dengan detail tentang kustomisasi tema yang Anda butuhkan.