Malaikat Jibril dan Rasulullah SAW Membaca Al-Qur'an
Mari kita bedah lebih dalam tentang keistimewaan Malaikat Jibril dan Rasulullah SAW bertadarus Al-Qur'an di bulan Ramadhan.
Pertemuan Dua Malaikat di Bulan Mulia : Setiap malam di bulan Ramadhan, terjadi sebuah pertemuan rutin antara langit dan bumi. Malaikat Jibril 'alaihis salam turun menemui Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Aktivitas utama mereka berdua di malam-malam penuh berkah itu adalah membaca, menyimak, dan mengulang (mudarasah) Al-Qur'an.
Dalil dan Penjelasan Hadits
Kisah ini diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits paling otoritatif. Mari kita lihat redaksi dan maknanya.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata : "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, ketika Jibril 'alaihis salam menemuinya. Jibril menemuinya pada setiap malam di bulan Ramadhan untuk membacakan (mengajarkan/mengulang) Al-Qur'an (mudarasah). Sungguh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika ditemui Jibril, lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berembus." (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2308)
Makna di Balik Tradisi Agung Ini
Ada banyak pelajaran dan hikmah luar biasa yang bisa kita gali dari peristiwa ini :
1. Mudarasah: Bukan Sekadar Membaca
Kata kuncinya adalah Mudarasah. Ini bukan sekadar aktivitas membaca satu arah. Mudarasah berarti saling belajar, mengulang pelajaran, dan mengkaji bersama.
Jibril membacakan Al-Qur'an kepada Nabi, dan Nabi menyimak.
Di tahun-tahun berikutnya, Nabi membacakan Al-Qur'an kepada Jibril, dan Jibril menyimak.
Bahkan di tahun terakhir kehidupan Rasulullah (tahun wafatnya), mereka mengulang Al-Qur'an hingga dua kali khatam. Ini sebagai isyarat bahwa ajal beliau sudah dekat.
Ini mengajarkan kita bahwa interaksi dengan Al-Qur'an harus intensif. Kita perlu :
Membaca (Tilawah) : Melafalkan ayat-ayatnya.
Menyimak (Tadabbur) : Mendengarkan dengan saksama sambil merenungkan maknanya.
Mengkaji (Tadarus) : Mempelajari tafsir dan ilmu-ilmunya.
2. Kedermawanan yang Tak Terbatas
Hadits ini secara jelas menghubungkan tadarus Al-Qur'an dengan kedermawanan (kebaikan) yang luar biasa. Rasulullah yang sudah sangat dermawan, menjadi lebih dermawan lagi saat bertadarus dengan Jibril. Bahkan digambarkan "lebih dahsyat dari angin yang berembus" (cepat, luas, dan penuh berkah).
Apa hubungannya?
Orang yang hatinya dekat dengan Al-Qur'an akan dipenuhi dengan cahaya dan kebaikan. Kebaikan ini kemudian memancar dalam bentuk kedermawanan, kasih sayang, dan akhlak mulia kepada sesama. Makin dalam interaksinya dengan Al-Qur'an, makin besar keinginannya untuk berbagi kebaikan.
3. Keutamaan Waktu (Setiap Malam Ramadhan)
Peristiwa ini terjadi setiap malam di bulan Ramadhan. Ini menunjukkan beberapa hal:
Malam adalah waktu yang tepat untuk tadarus. Suasana hening dan tenang membantu hati lebih khusyuk dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an.
Konsistensi itu penting. Meskipun hanya setahun sekali, aktivitas ini dilakukan secara rutin setiap malam sepanjang bulan. Ini mengajarkan kita untuk istiqamah dalam beribadah, terutama di bulan yang mulia.
Ramadhan adalah musim semi bagi hati. Sebagaimana tanaman tumbuh subur di musim semi, hati seorang mukmin akan "tumbuh subur" dengan siraman Al-Qur'an di bulan Ramadhan.
4. Kemuliaan Para Penghafal dan Pengajar Al-Qur'an
Pertemuan ini menunjukkan betapa mulianya aktivitas belajar dan mengajar Al-Qur'an. Guru paling agung (Jibril) datang kepada murid paling agung (Muhammad) untuk mengajarkan kitab paling agung (Al-Qur'an). Ini menjadi inspirasi bagi kita untuk terus belajar, mengajarkan, dan jika mampu, menghafalkan Al-Qur'an.
Kesimpulan dan Refleksi
Tradisi Malaikat Jibril dan Rasulullah bertadarus Al-Qur'an setiap malam di Ramadhan adalah kurikulum langit bagi umat manusia. Ini mengajarkan kita bahwa esensi Ramadhan adalah membangun kembali hubungan yang kuat dengan Al-Qur'an.
Mari kita jadikan momen ini sebagai motivasi untuk :
Menghidupkan Malam dengan Al-Qur'an : Luangkan waktu setiap malam di Ramadhan untuk membaca dan merenungkan Al-Qur'an.
Mengulang dan Memperbaiki Bacaan : Berusaha untuk tidak hanya membaca, tetapi juga memperbaiki tajwid dan memahami maknanya.
Mengamalkan Nilai-nilainya : Biarkan Al-Qur'an mengubah akhlak kita menjadi lebih baik, lebih dermawan, dan lebih penyayang.
Mengajarkannya kepada Keluarga : Ajak anak, istri/suami, dan keluarga untuk membaca Al-Qur'an bersama, meneladani interaksi Rasulullah dan Jibril.
Semoga kita semua dimudahkan untuk menghidupkan sunnah mulia ini di setiap Ramadhan. Aamiin.



Tidak ada komentar
Ditunggu komentarnya sob