Kisah dan Testimoni Ramadan Sepanjang Generasi : Jejak Kenangan yang Tak Pernah Lapuk
Dari masa kemerdekaan hingga era digital, Ramadan di Kampung telah menyimpan ribuan cerita tawa, air mata, doa, dan harapan yang teranyam menjadi mozaik kolektif.
Berikut adalah testimoni lintas generasi yang mengukuhkan bahwa Ramadan adalah identitas yang hidup di kampung kita.
1. Generasi 1940-1950an: Ramadan di Masa Sulit
MS (92 tahun),
“Tahun 1947, Ramadan pertama setelah kemerdekaan. Beduk masjid terbuat dari drum bekas tentara Jepang. Kami puasa dengan nasi jagung, berbuka dengan air tebu dan pisang rebus. Yang tak terlupa : Pernah lewat kampung ini saat safari Ramadan tahun 1952. Beliau berhenti, salat Magrib di mushala kecil, lalu berbuka dengan kami sekadar kurma tiga butir dan air putih. ‘Yang penting syukur,’ katanya. Dari situlah tradisi beduk tujuh wilayah mulai, sebagai simbol tujuh sila Pancasila waktu itu.”
Almarhumah MN (55 tahun), dalam arsip wawancara 2005
“Ramadan tahun 1950-an, kami sahur dengan lonceng sepeda Pak Pos yang lewat jam 3 pagi. Tak ada lampu, hanya obor dari bambu. Tapi, rasa kebersamaan itu semua tetangga seperti keluarga sendiri. Buka puasa selalu dibagikan ke yang tak mampu dulu, baru kita makan. Itu ajaran orang tua kami: ‘Air yang sedikit, dibagi-bagi jadi berkah.’”
2. Generasi 1960-1970an : Ramadan Modernisasi Pertama
Pak HR (81 tahun),
“Ramadan 1970, pertama kalinya kami punya listrik. Lampu hias dari bohlam warna-warni menggantikan obor. Tapi justru itu jadi masalah—anak-anak lebih suka main di lampu hias daripada tadarus. Akhirnya kami buat peraturan: sebelum main lampu, harus khatam juz 30 dulu. Hasilnya? Ramadan 1971, ada 15 anak hafal juz 30!”
Ibu T (78 tahun),
“Dulu tahun 1973, pertama kali saya jual apem. Suami sakit, perlu biaya berobat. Saya jualan dengan gerobak dorong. Hari pertama, cuma laku tiga bungkus. Menangis saya. Tapi tetangga-tetangga tahu kesulitan saya, mereka bergantian beli dan promosikan. Dalam sepekan, sudah antre panjang setiap sore. Bukan karena apem saya enak, tapi karena rasa solidaritas warga. Sampai sekarang, setiap apem terjual, saya sedekahkan sebagian untuk warga sakit.”
3. Generasi 1980-1990an: Ramadan dalam Gelombang Urbanisasi
Pak A (55 tahun),
“Saya merantau ke Jakarta tahun 1989. Ramadan 1990, karena baru kerja, tak punya uang pulang. Niatnya puasa sendiri di kos. Tapi tiga hari sebelum Ramadan, dapat paket dari kampung : beras, ikan asin, sambal, dan kue. Plus surat : ‘Kalau tak bisa pulang, bawa kampung-nya ke Jakarta.’ Saya menangis. Dari situlah saya janji: selama masih hidup, setiap Ramadan harus pulang.”
Bu L (60 tahun),
“Tahun 1998, Ramadan di tengah krisis moneter. Bahan-bahan mahal sekali. Saya hampir tak jualan rujak. Tapi warga malah patungan beliin bahan untuk saya. ‘Kami butuh rujak untuk buka puasa,’ kata mereka. Bahkan ada yang bayar pakai beras atau telur. Itu mengajarkan saya : Ekonomi bukan uang semata, tapi pertukaran kebaikan.”
4. Generasi 2000-2010an : Ramadan di Era Digitalisasi Awal
Kak E (42 tahun),
“Ramadan 2005, pertama kali saya buka pre-order via SMS. Waktu itu masih pakai Nokia 3310. Saya kirim broadcast ke 50 nomor warga. Eh, dalam dua hari, dodol habis 50 kg. Tahun 2009, sudah pakai Facebook. Sekarang ada grup WhatsApp khusus. Tapi filosofinya tetap: setiap dodol yang terjual, harus ada yang dibagikan gratis untuk yang tak mampu.”
Pertanyaan untuk Pembaca Setiap Generasi:
Untuk yang lahir sebelum 1970:
Apa kenangan Ramadan paling berharga masa kecil Anda di Cisitu?
Untuk generasi 1970-1990:
Bagaimana perubahan pertama teknologi mempengaruhi Ramadan Anda?
Untuk generasi 1990-2010:
Ceritakan pengalaman Ramadan pertama Anda jauh dari kampung halaman!
Untuk generasi 2010 ke atas:
Apa harapan Anda untuk Ramadan Cisitu di masa depan?
Penutup:
“Ramadan di Cisitu adalah benang merah yang menghubungkan kita semua—dari buyut sampai cicit, dari yang di kampung sampai yang di seberang lautan. Setiap cerita, setiap kenangan, adalah kepingan mozaik keindahan yang tak ternilai. Mari kita terus tambahkan kepingan kita, untuk wariskan kepada generasi berikutnya: bahwa Ramadan bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang cinta yang tak pernah putus di antara kita.”
Artikel ini adalah bagian keenam (terakhir) dari serial "Ramadan 1447 H di Kampung". Terima kasih telah mengikuti perjalanan ini. Seluruh artikel dapat diakses di arsip blog dengan tag #RamadanCisitu1447H.

Tidak ada komentar
Ditunggu komentarnya sob