Tradisi Menyambut Ramadan di Kampung Cisitu : Warisan Leluhur yang Tak Pernah Pudar
Tradisi Menyambut Ramadan di Kampung : Warisan Leluhur yang Tak Pernah Pudar.
Bagi warga Kampung Cisitu, menyambut Ramadan bukan sekadar menunggu pengumuman dari Kementerian Agama. Ada serangkaian ritual kolektif yang telah menjadi napas kultural selama puluhan tahun, mengikat satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi-tradisi ini adalah perekat sosial sekaligus persiapan spiritual menjelang bulan suci.
1. Mappasan: Membersihkan Hati dan Lingkungan
Seminggu sebelum Ramadan diperkirakan tiba, warga berkumpul untuk Mappasan istilah lokal untuk kerja bakti besar-besaran.
Merapikan Makam : Pemakaman keluarga dibersihkan, nisan direnovasi, dan bunga ditanam. Ini bukan pemujaan, tetapi bentuk penghormatan dan doa untuk leluhur.
"Grebeg" Masjid : Semua karpet dicuci, kipas angin diperiksa, pengeras suara dites, dan mimbar dibersihkan hingga berkilat.
2. Nyekar dan Silaturahmi Antargenerasi
Di akhir pekan menjelang Ramadan, jalan menuju pemakaman ramai oleh warga.
Makan Silahturahmi : Usai nyekar, keluarga besar biasanya makan bersama di rumah tertua, menyambung kembali hubungan yang mungkin renggang selama setahun.
3. Pawai Obor dan Tabuh Beduk Pertama
Malam sebelum hari pertama puasa, ada dua tradisi paralel :
Pawai Obor Anak-Anak : Anak-anak SD sampai SMP berkeliling kampung membawa obor dari bambu dan kain bekas, diiringi syair sholawat "Salamun Alaika Ya Ramadhan."
Beduk Pertama : Beduk besar dibunyikan pertama kali oleh Pak RT secara simbolis, diikuti oleh beduk-beduk kecil di tujuh titik kampung.
4. Pasar Ramadan Dadakan di Lapangan Voli
Lapangan voli berubah fungsi tiga hari sebelum Ramadan:
Bazar Perlengkapan Ramadan : Dari karpet sajadah, peci, mukena, hingga perlengkapan masak untuk sahur dan berbuka.
Stan Takjil Khas : Penjual kolak, es buah, kurma, dan kue tradisional mulai berjualan meski Ramadan belum masuk.
Stan Kitab dan Buku Religi : Biasanya dikelola oleh TPA setempat, menjual buku panduan puasa, doa-doa, dan terjemah Al-Qur'an.
5. "Sahur-Sahuran" Uji Coba
Khusus anak-anak yang tahun ini akan puasa penuh pertama kali, ada tradisi sahur-sahuran :
Dua Hari Sebelum Ramadan : Anak-anak bangun pukul 04.00, makan bersama nasi liwet dan telur dadar, kemudian salat Subuh berjamaah.
Ceramah Mini dari Sesepuh : Biasanya bercerita tentang Ramadan masa kecilnya di Cisitu tahun 1950-an.
6. Pembagian Kalender Ramadan Cisitu
Setiap tahun, Karang Taruna membuat kalender Ramadan unik :
Jadwal Imsakiyah Lokal : Disesuaikan dengan waktu matahari terbenam di area Cisitu.
Jadwal Pengisi Kultum : Berisi nama warga yang mendapat giliran kultum Tarawih.
Denah Posko Takjil Gratis : Lokasi-lokasi buka puasa bersama untuk warga kurang mampu.
Spesial Tahun 2026 : Kalender akan bertema "Ramadhan Hijau" dengan tips mengurangi sampah selama Ramadan.
Mengapa Tradisi Ini Masih Relevan?
Menurut sesepuh kampung : "Tradisi ini sekolah kehidupan.
- Saat bersih-bersih, kita belajar gotong royong.
- Saat nyekar, kita belajar mengingat kematian.
- Saat pawai obor, anak-anak belajar kegembiraan menyambut ibadah.
Ini bekal spiritual yang tak ternilai."
Tantangan di Era Digital
Beberapa tradisi mulai beradaptasi :
Pengumuman via Grup WhatsApp : Selain beduk, jadwal imsak dan buka juga disebar via grup "Cisitu Bersatu."
Virtual bagi yang Merantau : Warga yang merantau bisa ikut nyekar virtual dengan konferensi video saat keluarga di makam.
Pendaftaran Takjil Gratis via Google Form : Untuk menghindari penumpukan saat pembagian.
Ajakannya untuk Ramadan 2026 :
Mari kita jaga tradisi ini dengan :
Ikut kerja bakti Mappasan Januari 2026
Ajak anak-anak pawai obor agar mereka merasakan kegembiraan yang sama seperti kita dulu
Dokumentasikan tradisi dengan foto/video untuk arsip digital kampung
Sambung cerita ke generasi muda tentang makna di balik setiap ritual
Pertanyaan Refleksi :
Tradisi mana yang paling berkesan bagi Anda?
Apakah ada ritual menyambut Ramadan khas keluarga Anda yang belum disebutkan di atas?
Bagikan di komentar!
Artikel ini bagian dari serial "Menuju Ramadan 1447 H di Kampung Cisitu.
Tulisan berikutnya : Kuliner Ramadan yang Bikin Rindu Kampung Halaman.

Tidak ada komentar
Ditunggu komentarnya sob